MY CREATION

KURANGNYA MOTIVASI MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN ANAK

Makalah

Diajukan sebagai tugas akhir mata kuliah umum

Bahasa Indonesia

 

 

 NESRI YUNISAL

NPM 08040164

KELAS ENGLISH 08/E

 

 

JURUSAN BAHASA INGGRIS

STKIP PGRI SUMBAR

2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan pada Allah Yang Mahakuasa. Karena izin-Nya proposal penelitian ini dengan judul “Kurangnya Motivasi Masyarakat dalam Pendidikan Anak” dapat diselesaikan. Penulisan proposal penelitian kuantitatif ini dimaksudkan untuk tugas akhir mata kuliah umum bahasa Indonesia.

Pada penulisan proposal penelitian kuantitatif ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah ini yang turut membantu dalam menyelesaikan proposal penelitian kuantitatif ini. Meskipun mempunyai kelemahan, penulis berharap proposal penelitian kuantitatif ini bermanfaat bagi pembaca sebagai salah satu sumber informasi yang dapat menambah pengetahuan tentang penelitian kuantitaf

Padang,  Februari 2011

Penulis,

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah kata yang amat sering diperbincangkan orang diseluruh dunia. Itu karena pendidikan sangat menyentuh dan menentukan nasib ataupun kualitas bangsa itu sendiri. Setiap individu dan masyarakat mempunyai potensi yang harus dikembangkan untuk mendukung serta melancarkan kegiatan pembangunan dalam masyarakat tersebut. Manusia sebagai individu, sebagaimana kodratnya memiliki sifat baik maupun buruk. Sifat-sifat yang kurang baik inilah perlu dibina dan dirubah sehingga melahirkan sifat-sifat yang baik agar bisa dikembangkan. Proses pembinaan dan perubahan tersebut dilakukan melalui pendidikan. Melalui pendidikan ini manusia diharapkan menjadi individu yang mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk secara mandiri meningkatkan taraf hidupnya baik lahir maupun bathin serta peranannya sebagai individu, warga masyarakat, dan warga negara.

Pada kenyataannya, di tengah masyarakat seringkali terdengar keluhan yang menyayangkan kenapa pendidikan dalam pengertian formal dan berjenjang sangat mahal, sehingga sering tidak terjangkau oleh masyarakat. Akibatnya, tidak banyak anggota masyarakat yang beruntung, bisa menikmati jalur pendidikan formal dan dapat mengakses pasar dunia kerja yang semakin kompetitif. Kebanyakan warga masyarakat kita yang status sosial dan ekonominya dibawah garis kemiskinan, pendidikan merupakan barang yang mahal dan barangkali termasuk barang yang mewah. Jangankan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, untuk mencukupi kebutuhan primer pun terkadang mereka terpaksa gali lobang-tutup lobang.

Hal lain yang menyebabkan kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak karena kebanyakan masyarakat kita adalah masyarakat sederhana. Maksud masyarakat sederhana adalah masyarakat yang mempunyai pengetahuan kurang terspesialisasi dan sedikit keterampilan. Hal ini  diajarkan membuat mereka tidak perlu rasanya untuk menciptakan institusi yang terpisah bagi pendidikan seperti sekolah. Selanjutnya, alasan yang lain penyebab kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak seperti banyak orang tua anak yang beranggapan bahwa pendidikan adalah tanggungjawab sekolah. Anak-anak yang pintar di sekolah berasal dari rumah yang orang tuanya sangat peduli dengan pendidikan. Maka, pendidikan di rumah dengan orang tua sebagai pendidik dan motivator sangat menentukan kualitas pendidikan bangsa ini.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan masalah ini sebagai berikut.

1.      Bagaimanakah akibat dari kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak?

2.      Bagaimanakah tindak lanjut seorang motivator dalam mengatasi kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak?

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan ini untuk mendeskripsikan hal berikut.

1.      Akibat dari kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak,

2.      Tindak lanjut dari motivator pendidikan dalam mengatasi kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak.

D.    Manfaat Penelitian

Manfaat penulisan makalah ini ditujukan untuk pihak-pihak sebagai berikut.

1.      Masyarakat umum diharapkan agar selalu memberikan motivasi dalam  pendidikan anak demi meningkatkan sumber daya manusia bangsa ini,

2.      Pembaca diharapkan menjadikan bacaan ini suatu pemikiran dalam memberi motivasi terhadap pendidikan anak,

3.      Penulis menyadari betapa kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak. Padahal pendidikan merupakan suatu yang terpenting dalam meningkatkan taraf hidup bangsa ini.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Pengertian Motivasi

Menurut Marx dan Tombouch (dalam Prayitno, 1989:8) mengumpamakan motivasi sebagai bahan bakar dalam beroperasinya mesin gasolin. Tidaklah menjadi berarti, betapapun baiknya mesin dan kehalusan penyetelan kita dalam mengoperasikan mesin gasolin tersebut, kalau bahan bakarnya tidak ada, sama halnya dengan betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau bakat siswa dan materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, maka proses belajar tidak akan berlangsung dengan optimal.

Menurut Robert (dalam Prayitno, 1989:8) motivasi meliputi pembahasan tentang “need for achievement” (n.ach), “need for affliation” (n.aff), rangsangan, kebiasaan, dan perasaan ingin tahu yang berasal dari dalam diri siswa. Need for achievement yang disingkat dengann.ach adalah kebutuhan untuk berprestasi, yaitu suatu keinginan untuk selalu unggul atau menjadi terbaik.

Menurut Thomas dan Brophy (dalam Prayitno, 1989:8) motivasi merupakan suatu energi penggerak, pengarah, dan memperkuat tingkah laku. Menurut Anderson dan Faust (dalam Prayitno, 1989:10) motivasi dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perhatian, konsentrasi, dan ketekunan. Dengan demikian, motivasi adalah suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk mewujudkan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh faktor internal (yang timbul dari dalam dirinya sendiri) dan faktor eksternal (dari luar dirinya seperti, masyarakat dan lingkungan sekitar).

B.     Pengertian Masyarakat

Berdasarkan artikel yang berjudul Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan mengatakan bahwa “masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan” (2009:1). Selanjutnya, artikel ini juga mengatakan bahwa “Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi” (2009:2). Berdasarkan artikel yang berjudul Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat mengatakan bahwa “Masyarakat merupakan suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya” (2008:1).

Kemudian, artikel ini juga menjelaskan bahwa “Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal disuatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok/kumpulan manusia tersebut” (2008:2). Jadi, masyarakat adalah sekelompok komunitas manusia yang berdomisili pada daerah tertentu untuk mencapai tujuan kehidupannya.

C.    Pengertian Pendidikan

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 (dalam Dewi, 2008:16) pendidikan adalah sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak bangsa dan negara. Berdasarkan artikel yang berjudul Filosofi Pendidikan menyebutkan bahwa “education is now engaged is repairmen for a tiff society which does not yet exist (pendidikan sekarang itu adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada)” (2010:1).

Berdasarkan artikel ini juga dijelaskan bahwa “pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini akan mungkin terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup” (2010:4). Selanjutnya, artikel ini mengatakan bahwa “Pendidikan adalah sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya” (2010:4).

Kemudian di dalam artikel ini disebutkan bahwa “Pendidikan adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, tetapi dibutuhkan pada masa dewasa” (2010:5). Terakhir artikel ini mengatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup” (2010:6). Dengan demikian, pendidikan adalah suatu jalur dalam merubah sikap, tingkah laku, dan kebiasaan dari seseorang kearah yang lebih baik, sehingga dia mampu menempatkan dirinya sebagai seorang yang terdidik.

D.    Guru Memotivasi Siswa

Menurut Marx dan Tombouch (dalam Prayitno, 1989:2) mengajar diumpamakan seperti membimbing kuda ke air, guru memang membimbing siswa dalam belajar. Menurut Hamacheck (dalam Prayitno, 1989:3) bahwa usaha guru memotivasi siswa merupakan proses membimbing siswa memasuki berbagai pengalaman dimana proses belajar sedang berlangsung, proses menimbulkan kegairahan dan keaktifan pada siswa sehingga dia benar-benar siap untuk belajar, dan proses yang menyebabkan perhatian siswa terpusat kepada satu arah atau tujuan pada suatu waktu belajar.

Menurut Howley (dalam Prayitno, 1989:4) menyarankan agar guru sebanyak mungkin mempergunakan waktunya dalam mengajar untuk memotivasi siswa-siswanya. Menurut Coleman (dalam Prayitno, 1989:5) konsep memotivasi siswa adalah konsep mendorong (push) dan konsep menarik (full). Dalam mendorong (push), agar keinginan yang potensial benar-benar menjadi tampil dalam bentuk tingkah laku, maka guru harus membangun self-motivation.

Sedangkan usaha menarik (full), agar keinginan siswa muncul dalam belajar, maka guru harus melakukan penghargaan eksternal, seperti hadiah, pujian, atau nilai-nilai. Jadi, guru memotivasi siswa berarti guru memberikan semangat atau dorongan kepada siswa dalam proses pembelajaran agar siswa menjadi aktif dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru.

E.     Unsur-unsur Masyarakat

Berdasarkan artikel yang berjudul Unsur dan Kriteria Masyarakat dalam Kehidupan Sosial antara Manusia (2008:1) mengatakan bahwa unsur-unsur dari masyarakat itu sebagai berikut.

1.      Beranggotakan minimal dua orang,

2.      Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan,

3.      Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang mengahsilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antara anggota masyarakat, dan

4.      Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.

F.     Ciri-ciri Masyarakat

Berdasarkan artikel yang berjudul Unsur dan Kriteria Masyarakat dalam Kehidupan Sosial antara Manusia (2008:1) mengatakan bahwa cirri-ciri dari masyarakat itu sebagai berikut.

1.      Ada sistem tindakan utama,

2.      Saling setia pada sistem tindakan utama,

3.      Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang hidup, dan

4.      sebagian atau seluruh anggota baru didapat dari kelahiran/reproduksi manusia.

G.    Filosofi Pendidikan

Berdasarkan artikel yang berjudul Jenis-jenis Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan (2009:2) mengatakan bahwa filosofi dari pendidikan itu sebagai berikut.

1.      Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

2.      Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.

3.      Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

H.    Jalur Pendidikan

Berdasarkan artikel yang berjudul Jenis-jenis Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan (2009:2) mengatakan bahwa jalur dari pendidikan itu sebagai berikut.

1.      Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

2.      Pendidikan non formal

Pendidikan non formal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, Taman Pendidikan Al Quran yang terdapat disetiap mesjid dan sekolah minggu yang terdapat disemua gereja.

4.      Pendidikan informal

Pendidikan informal merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggungjawab.


BAB III

PEMBAHASAN

A.    Akibat Kurangnya Motivasi Masyarakat dalam Pendidikan Anak

Berdasarkan pemahaman dari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang motivasi, masyarakat, dan pendidikan, sangat mempunyai hubungan yang erat. Dalam pendidikan anak itu sangat diperlukan pendekatan suatu sistem, sehingga pendidikan dilihat secara menyeluruh dan tidak lagi parsial atau pragmatis. Sistem itu memperoleh input dari masyarakat yang meliputi, keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitarnya.

Dan sistem ini nantinya akan memberikan output bagi masyarakat dan lingkungan tersebut. Namun, kalau dilihat masih banyak anak-anak bangsa ini yang tidak mendapatkan peluang untuk menikmati pendidikan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak tersebut. Dan motivasi itu tidak timbul dari masyarakat karena banyak faktor yang menjadi penghambat.

1.      Lingkungan keluarga

Pada lingkungan keluarga misalnya, orang tua sering beranggapan bahwa pendidikan anak itu adalah tanggungjawab sekolah. Dengan demikian, orang tua merasa tidak penting dalam menentukan kualitas bangsa ini lewat mendidik dan memajukan anak-anak mereka sendiri. Dalam hal ini, mereka tidak memahami bagaimana menjadi orang tua yang cerdas terhadap anak-anak mereka sendiri. Selain itu, orang tua tidak memperhatikan mengapa dan bagaimana anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan kurang memperhatikan hal itu, pertumbuhan dan perkembangan anak telah membuat jutaan orang tua di dunia ini salah mendidik anak.

Sebagai akibat dari orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya karena hal lain yang kadang kala penuh kepalsuan, anak kurang merasa perhatian, maka anak akan menjadi gelisah dan kurang puas. Setelah itu, orang tua akan dituntut peran dan tanggungjawabnya. Anak selalu butuh kualitas perhatian orang tua melalui kehangatan hubungan mereka. Ini penyebab dari tipe individual dan anti sosial anak. Maka, setelah dewasa anak tidak akan dapat berintekrasi dengan lingkungannya, apalagi untuk mengembangkan potensi dirinya. Karena dari kecil anak tidak terbiasa dibekali dengan pendidikan.

2.      Lingkungan sekolah

Ketika anak berada pada lingkungan sekolah, sering juga kemampuan dan skill anak tidak tergali. Anak memiliki potensi, tetapi kenapa tidak dapat dibuktikan oleh anak. Ini meruapak suatu hal yang kurang diperhatikan dalam sistem pendidikan. Hal ini sering menjadi permasalahan bagi guru, karena mereka tidak berhasil dalam mendidik anak. Guru tidak sanggup memotivasi anak supaya terpancing untuk mengembangkan potensi yang terpendam dalam diri anak tersebut.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah guru yang merasa bahwa tugas mereka sebagai guru hanyalah mengajar saja. Tetapi, mereka tidak berpikir bahwa tugas mereka sebagai guru itu adalah menimbulkan minat siswa terhadap apa yang mereka ajarkan. Guru-guru seperti ini menghabiskan waktu mereka di dalam kelas semata-mata hanya sekedar menuangkan materi pelajaran kepada siswa.

Disini mereka tidak peduli apakah materi yang mereka ajarkan atau terangkan itu diterima oleh siswa untuk dijadikan sebagai miliknya atau tidak. Mereka tidak memperhatikan apakah materi yang mereka ajarkan bermanfaat dan mempengaruhi tingkah laku atau perkembangan siswa ke arah yang positif. Guru-guru seperti ini tidak menyadari bahwa siswa-siswa yang tidak berminat tidaklah akan menerima pelajaran dengan baik. Situasi seperti ini sama halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Marx dan Tombouch (dalam Prayitno, 1989:2) seperti membimbing kuda ke air. Guru memang membimbing siswa dalam belajar, namun tidak dapat menjadikan siswa menguasai apa yang dipelajarinya.

Menurut Thomas (dalam Prayitno, 1989:3) sebagai akibat kurangnya motivasi guru terhadap pendidikan anak, maka anak tidak akan berminat terhadap apa yang diajarkan oleh guru. Namun, dia diharuskan untuk mempelajarinya maka di dalam diri anak akan timbul perasaan benci terhadap pelajaran itu. Bahkan, untuk selanjutnya mereka tidak akan pernah mempelajarinya. Di dalam kelas anak sering mengatakan “Saya tidak mampu belajar bahasa Indonesia” atau “Saya tidak senang belajar bahasa Inggris”.

Jika kita teliti masalahnya bukan karena mata pelajaran di atas sukar atau memang tidak menyenangkan, tetapi agaknya kedua guru mata pelajaran itu tidak mempergunakan strategi yang cukup ampuh. Sehingga siswa tidak termotivasi dan tertarik untuk mempelajarinya. Bahkan merasakan mata pelajaran itu menjadi menyiksa. Kemudian, akibat lain tidak termotivasinya anak, maka akan menimbulkan prilaku menyimpang. Mereka akan bertingkah laku yang menyebabkan permasalahan disiplin kelas.

3.      Lingkungan Sekitarnya

Masyarakat dalam lingkungan anak tidak dapat disamakan, apalagi pola pikirnya, ini sangat jauh berbeda satu sama lainnya. Masyarakat yang mempunyai pengetahuan kurang terspesialisasi dan sedikit keterampilan (masyarakat sederhana), mereka merasa tidak perlu untuk mendidik anak melalui pendidikan formal seperti sekolah. Sebagai gantinya anak-anak mereka memperoleh warisan budaya dengan mengamati dan meniru orang dewasa. Mereka melakukan kegiatan seperti, upacara, berburu, pertanian, dan panen.

Sebagai akibatnya dari lingkungan sekitarnya, anak-anak tidak mempunyai pengetahuan yang terspesialisasi dan sedikit keterampilan. Mereka juga akan sering gagal dalam mengkomunikasikan keterampilan yang dimilikinya secara efektif. Karena masyarakat sederhana tidak mempunyai orang yang khusus berfungsi mengajar. Anak-anak dari masyarakat sederhana hanya bisa mengikuti kepada kebiasaan masyarakat disekitarnya. Karena guru-guru dalam masyarakat langsung mempraktikkan apa yang mereka ajarkan. Oleh karena itu, anak-anak akan sulit mendapatkan keterampilan yang berbau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) seperti masyarakat moderen.

B.     Tindak Lanjut Motivator Pendidikan untuk Mengatasi Kurangnya Motivasi Masyarakat dalam Pendidikan Anak

Merangkai sederetan penderitaan masyarakat, memang tidak akan pernah selesai, malah akan memperpanjang daftar masalah (list problem) bangsa ini. Namun, kepedulian terhadap realitas kebangsaan, terutama mengenai keterpurukan dunia pendidikan. Hal ini setidaknya akan menimbulkan kesadaran bagi semua elemen bangsa, bahwa betapa agenda kebangsaan terakbar saat ini lokusnya terletak pada dunia pendidikan. Selanjutnya dengan modal kesadaran ini, semua elemen bangsa seharusnya mulai lebih serius untuk memberikan motivasi terhadap pendidikan anak. Berikut ini akan dijelaskan bebrapa tindak lanjut dari motivator pendidikan dalam memotivasi pendidikan anak.

1.      Lingkungan keluarga

Selama ini kebanyakan keluarga beranggapan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab dari sekolah. Tetapi, pendidikan anak dalam era global ini sangat membutuhkan bantuan motivasi dari keluarga. Berdasarkan artikel yang yang berjudul Mengoptimalkan Pendidikan di Rumah (2009:1) orang tua perlu memahami eksistensi anak dalam keluarga tentang pendidikan anak sebagai berikut.

1)      Orang tua memahami eksistensi perkembangan anak. Orang tua juga punya peran besar dalam pengembangan pendidikan agama dan moral anak.

2)      Orang tua mengukir kepribadian anak dan bagaimana gambaran mereka kelak. Orang tua membentuk emosi positif anak, karena memperlihatkan kepeduliannya dalam mendidik anaknya.

3)      Orang tua membina motivasi dan prestasi belajar anak. Memberikan motivasi agar dapat tumbuh dalam suasana yang bebas, merdeka, tanpa ketegangan dan tuntutan yang berlebihan, anak perlu merasa dihargai serta diterima apa adanya.

4)      Orang tua memusatkan konsentrasi anak dalam belajar dengan memberikan motivasi.

2.      Lingkungan sekolah

Sebenarnya tujuan jangka panjang dalam membangun dan mengembangkan motivasi siswa dalam belajar adalah terbentuknya motivasi dari did sendiri (self-motivation). Menurut Marx dan Tombouch (dalam Prayitno, 1989:4) bahwa pada dasarnya di dalam diri setiap anak ada keinginan yang kuat untuk belajar yang bersifat alami. Guru tinggal mengembangkan atau memupuknya sehingga keinginan belajar terealisasi dalam bentuk prestasi yang maksimal. Pendidik harus mengahayati dan menerapkan tekni-teknik untuk membangkitkan dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Pembimbing juga harus memahami kepribadian siswa agar nantinya tepat dalam memilih prinsip-prinsip dan tekni-teknik yang akan dipakai dalam memotivasi siswa.

3.      Lingkungan sekitarnya

Para ahli behavioristik, Skinner (dalam Prayitno, 1989:5) mengemukakan bahwa motivasi siswa sangat ditentukan oleh lingkungannya. Oleh karena itu, siswa akan termotivasi dalam belajar jika lingkungan belajar dapat memberikan rangsangan sehingga siswa tertarik untuk belajar. Dalam memberikan motivasi tentu membutuhkan suatu keterampilan dan waktu yang cukup lama, apalagi dalam lingkungan masyarakat sederhana. Tetapi, perubahan pola piker mereka harus mereka ubah sehingga tidak berbeda dengan masyarakat moderen.

Berdasarkan artikel yang berjudul Pendidikan dalam Masyarakat Sederhana (1989:57) harus mengadakan lembaga pendidikan (sekolah) dalam mendidik anak mereka dengan  alas an sebagai berikut.

1)      Perkembangan agama dan kebutuhan untuk mendidik moral anak,

2)      Pertumbuhan dari dalam (lingkungan masyarakat itu sendiri) atau pengaruh dari luar,

3)      Pembagian kerja dalam masyarakat yang menuntut keterampilan dan teknik khusus,

4)      Konflik dalam masyarakat yang mengancam nilai-nilai tradisional dan akhirnya menuntut pendidikan.

BAB IV

PENUTUP

 A.    Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah tentang akibat kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak dan tindak lanjut motivator untuk mengatasi hal tersebut dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut.

1.      Dalam lingkungan keluarga, anak tidak akan dapat berintekrasi dengan lingkungannya, apalagi untuk mengembangkan potensi dirinya. Tindak lanjut yang dapat di ambil oleh motivator untuk mengatasi hal tersebut seperti, memahami eksistensi perkembangan anak, mengukir kepribadian anak, dan membina motivasi serta prestasi belajar anak.

2.      Dalam lingkungan sekolah, anak tidak akan berminat terhadap apa yang diajarkan oleh guru dan akan menimbulkan prilaku menyimpang dalam diri anak. Tindakan yang dapat di ambil oleh motivator untuk mengatasi hal tersebut adalah pendidik harus menghayati dan menerapkan teknik-teknik untuk membangkitkan dan meningkatkan motivasi anak dalam belajar.

Dalam lingkungan sekitarnya, anak tidak mempunyai pengetahuan yang terspesialisasi, memiliki sedikit keterampilan dan sering gagal untuk mengkomunikasikannya secara efektif. Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh motivator untuk mengatasi hal ini misalnya, memberikan rangsangan sehingga anak tertarik untuk belajar, dan merubah pola piker masyarakat kea rah yang lebih maju.

B.     Saran

Setelah memahami tentang kurangnya motivasi masyarakat dalam pendidikan anak, hendaknya pembaca dapat meningkatkan apresiasi terhadap profil pendidikan. Dalam mengatasi segala problem-problem dibidang pendidikan anak, diharapkan pihak pemerintah dan pihak yang terkait serta masyarakat bekerjasama untuk menylesaikannya. Hal ini perlu disadari dan dilakukan oleh semua pihak demi tercapainya tujuan dari pendidikan untuk mencerdaskan bangsa ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Prayitno, Elida. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Depdikbud.

Dewi, Kurmala. 2008. Profesi Kependidikan. Makalah. Jurusan Bahasa Inggris STKIP PGRI Sumatera Barat.

Marjohan. 2009. Mengoptimalkan Pendidikan di Rumah. http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=15558. Diunduh  23 Desember 2010.

Chumaedy, Ahmad. 1989. Masyarakat Sederhana. http://semangatbelajar.com/tag/mandiri. Diunduh  23 Desember 2010.

Waspodo, Hick. 2009. Jenis-jenis Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan. http://www.skbbarru.com/?p=293. Diunduh  23 Desember 2010.

annen. 2008. Unsur dan Kriteria Masyarakat dalam Kehidupan Sosial antara Manusia. http://www.skbbarru.com/?p=293. Diunduh  23 Desember 2010.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s